Gelandangan Kesepian

>> Kamis, 05 Januari 2012

Bapak tua duduk di lantai stasiun Tbane
Badannya bersandar pada dinding beku dan dingin
Kepalanya tertunduk
Entah lemas,
Atau mengantuk

Butir salju bergulir di pipinya
Lalu mendarat di kain lusuh yang membalut kulitnya.
Dia peduli akan dinginya hari,
Tapi tak banyak jalan yang bisa ia pilih
Selain duduk bersimpuh,
dan mengaduh di dalam hati.

Hilir mudik orang berlalu,
Tak banyak yang mau berbagi kehangatan dengan bapak tua itu.
Kasihan sekali beliau..

Ia seorang diri diantara sibuknya orang-orang yang berada lebih tinggi darinya.
Tinggi sekali,
Sehingga ia harus menengadahkan kepalanya untuk melihat mereka.
Ia berada jauh dari jangkauan orang-orang,
Jauh,
Sehingga tak mampu baginya untuk menggapai mereka.

"Sepi, sepi sekali..", bisiknya ditengah kemeriahan hidup.

Read More.. Read more...

Tendonitis

>> Jumat, 19 Agustus 2011

Doa saya malam ini, Ya Allah sembuhkan pergelangan tanganku.

Semenjak memiliki seorang anak yang imut dan luchu, saya terpaksa excited mengerjakan segala hal mulai dari yang heavy duty (gendong anak) sampai yang cemen (tidur). Mungkin karena intensitas menggunakan tangan sangat tinggi, yang entah bagaimana proses ilmiahnya,akhirnya saya menderita tendonitis atau radang tendon di bagian pergelangan tangan. Pada awalnya sih tangan kiri, tapi tak bisa dipungkiri, kembaran tangan kiri ikut-ikutan bertingkah, sampai pada akhirnya mereka berdua berjamaah menyerangku dengan rasa linu ajep ajep.


Bulan demi bulan berlalu. Karena sudah tidak merasa nyaman dengan rasa sakit, maka sayapun memutuskan untuk pergi menemui dokter. Saya tidak akan menyebutkan nama demi menjaga reputasinya sebagai dokter di Stavanger. Namun yang pasti inisialnya berawal dengan huruf M, lalu A, setelah itu R, I, dan huruf terakhir O. Tiba saatnya saya bertemu dirinya di ruang praktik, diapun bertanya sesuatu yang pada umumnya dilontarkan oleh seluruh dokter di jagad fana ini; “udah makan blooon?”

“ujah joong”

Anyway, saat itu sungguh pemeriksaan yang sangat singkat. Entah karena beduk magrib sudah terdengar atau memang dia dokter versi mie instan, yang pasti dia sama sekali tidak memperhatikan bagian tanganku yang sakit. Sebenarnya saya ingin menyodorkan tangan ini ke hadapannya, tapi takut dikira minta cium tangan. Ya sudahlah akhirnya saya hanya bisa berkeluh kesah tentang kondisiku saat itu.

“Ya kamu kena tendonitis alias radang di tendon gitudeh..”
“Oh..”
“Tapi saya gabisa kasih kamu obat karena kamu masih menyusui.”
“Oh..”
“Gini deh, kamu pake bandage aja, trus jangan angkat yang berat-berat dulu. Kita lihat perkembangannya, kalo memburuk, ntar cini lagi ajah, mungkin kamu harus fisioterapi”

Saya pulang dengan tangan hampa. Benar-benar hampa karena saya tidak membawa obat apapun, dan lagi uang yang saya genggam sudah lenyap bagai ninja untuk membayar biaya dokter. Bisa ditebak, tangan saya tidak membaik.

Bulan demi bulan terus berlalu sampai pada saat saya pindah ke Oslo, tangan ini masih sakit. Sempat menunda-nunda pergi ke dokter untuk yang kedua kalinya karena khawatir mendapat perlakuan yang serupa dengan dokter sebelumnya. Namun karena disini tidak ada dukun tulang atau tukang urut, maka apa boleh buat, saya tetap harus pergi ke dokter. Kemungkinan, saya minta rujukan untuk fisioterapi, yang pastinya membutuhkan biaya lebih banyak. Dokter kali ini berinisial T, lalu O, lalu R, terakhir G. Dari air mukanya dia lebih bisa ramah dan bertenggang rasa terhadap kondisi pasienya. Dari raut mukanya, dia terlihat kedua paling ganteng setelah suamiku. Mungkin dia semuran sama suamiku. Atau lebih tua dikit deh. Tapi jauh lebih tinggi sih, dan rambutnya pirang gitudeh, agak model acak-acakan naruto belah pinggir. Terus kulitnya putih, ya maklumlah orang bule kan emang gitu semua tipenya. Lho kok jadi ngegosip?

Yang saya suka darinya adalah pemeriksaan tangan yang intensif. Dia mengecek bila ada pembengkakan dan lain-lain. Selain itu diapun menjelaskan banyak hal termasuk obat yang akan diberikan kepadaku, yang sepenuhnya aman untuk ibu menyusui. Akhirnya saya pulang -masih- dengan tangan hampa, karena toh tidak membawa belanjaan apapun. Tapi hati ini puas akan penjelasan dari si dokter. Sekarang, saya sedang menunggu reaksi obat yang sebenarnya belum begitu terasa. Tapi mungkin lambat laun akan ada hasilnya, Mudah-mudahan.

Insyaallah.

Adios amigos ngos ngosan.

Read More.. Read more...

Velkommen tilbake, welcome back.

>> Rabu, 17 Agustus 2011

Sudah lama sekali ga nulis blog sampai akhirnya........... brot.

Perkenalkan Zahra, anakku yang lahir ke dunia fana 26 november tahun lalu.



ngiauu..



Makhluk imut dan mulia ini sungguh menggemaskan. Lucunya ga ketulungan. Tapi ada juga saat aku depresi karena tingkah lakunya. Yang pasti, ia mampu mengubah hidupku menjadi lebih “berbakat”. Berikut ini bakat yang berhasil dibentuk oleh anakku sendiri.

1. Bakat nyanyi. Sebelum memiliki anak, saya memang memendam rasa untuk menjadi seorang penyanyi, level studio kamar mandi. Dan sekarang level itu naik menjadi penyanyi studio rumahan. Ya, di ruang manapun kuberada, aku selalu melantunkan nyanyian untuknya. Lama kelamaan cape juga sih. Tapi apa daya, karena keterbatasan gadget pemutar lagu, maka gadget sederhana dengan merek Kenwook Manualiticity Resonansi Daminatilada alias pita suaraku menjadi andalan Zahra dalam menikmati musik sehari-hari. Suka atau tidak, yang pasti dia tak pernah menolakku untuk menyanyikan sebuah lagu. Entah karena dia berusaha menghargai ibunya ataukan dia belum mampu untuk menutup mulutku. Oh, mungkin saja lagu yang kupersembahkan adalah lagu abege 90-an yang easy listening dan mendayu-dayu seperti agung sedayu, sehingga anakku sangat enjoy jolly-jolly. Special thanks to: The Moffatts dan Westlife.

2. Bakat akrobat. Gimana sih rasanya pipis (kadang juga buang ***********) sambil menggendong seorang anak? Gimana posisi membersikan rumah dengan kaki yang selalu dipanjat seorang anak? Gimana posisi menggendong anak yang tidak mau berada di dalam kereta bayi, membawa belanjaan (beras dan popok jumbo), sekaligus mendorong kereta bayi itu sendiri?? Ditambah menyetop bus dan menaikinya. Silahkan kerahkan imajinasi anda.

3. Bakat makan. Kalau yang satu ini sebenarnya aib bakat dari dulu. Tapi setelah kemunculan Zahra, bakat itu semakin menjadi jadi karena aku menjelma bagaikani ayam yang selalu makan remah-remah dan kadang kerikil. Zahra selalu meninggalkan jejak makanan kemanapun rute perjalanannanya (ruang keluarga, kamar, hall, dapur). Dari sini, terbukti tingkat intelektualitasnya sangat tinggi, karena rupanya ia berusaha untuk menandai perjalananya dengan makanan agar ia tidak tersesat. Tapi sang ibu tidak rela lantai rumah kotor. Maka remah-remah yang antara lain, remah roti, pisang, biskuit bayi, intan, dan berlian, selalu disantapnya bagaikan vacum cleaner bernyawa.

Begitulah ceritanya. Mudah-mudahan ada agen Indonesia Mencari Bakat yang tertarik untuk mengorbitkan aku sebagai ibu multitakentut.

Adios bay bay.

Read More.. Read more...

Iseng dulu

>> Rabu, 25 Agustus 2010

Yak saudara-saudara, kini saya resmi menjadi mahasiswa (lagi). Sudah lama saya tidak merasakan sensasi ini.. sensasi pusing karena banyaknya gagasan tapi entah harus dimulai darimana. Ini bukan semata-mata kesalahan saya lho, tapi salahkan saya tugas kampus yang abstrak dan bebas. Ditambah lagi objek penelitian menyangkut kawasan besar (4 municipality), dan baru sekali survey, dan lagi pada waktu itu saya ketiduran dalam bus sehingga tidak mendengar penjelasan dari si “guide” secara komplit.

Yasudahlah..

Mending ngalor ngidul yuk..

Hayuk..

Bahas poto2 karya sang master aja ya..

Iya..

Baiklah, berikut ini adalah teman-teman saya yang tidak bisa ngomong atau ketawa:

– Halo, aku teman Nisa yang unik lho. Oiya sebelumnya, semua pasti tahu versi asli dari judul buku ini; Rich Dad, Poor Dad karya Robert. T. Kiyosaki. Tapi aku, beda. Tapi jangan tergiur dulu membaca dan menjamah aku, karena aku ini hanya buku catatan. Harapan aku untuk Nisa saat dia sedang mencatat kuliah adalah memotivasi dirinya untuk kaya, dan kamu miskin (?)

– Aku adalah buku teori yang agak membosankan (kata bule), dan sangat membosankan (kata Nisa). Terbukti nasibku bermalam di kamar Nisa hanya bisa dihitung jam. Sungguh mengenaskan. Aku belum sempat akrab sama Nisa, dia malah mencampakkan aku. Disini aku mau bocorin rahasia ya, dikamarnya suka tergantung barang2 “terlarang”. Bentuknya rada segitiga gitu..

– Kami diculik secara masal dari habitat asal, rak buku. Entah kenapa Nisa tertarik membawa kami padahal kami berat lho. Sesampainya kami di kamar Nisa, dia kecewa karena kami tidak banyak memberi secercah harapan untuk membuat tugasnya. Kamipun diancam dikembalikan ke perpus. Tapi ancaman Nisa adalah suatu kebahagiaan untuk kami, dan kami sudah tidak sabar untuk dikembalikan ke habitat asal. Yippee besok kami pulanggg..

– Baru kali ini kami difoto sama orang bukan bule. Bule juga ga pernah mengambil gambar kami denk. Tapi kami merasa tersanjung, karena orang yang foto membisikkan bahwa kami mirip artis Negara asalnya. Disisi lain kami heran juga sama artis yang ia sebutkan. Apa artis itu juga tukang cuci ya?

– Aku senang sekali saat berkenalan dengan Nisa. Karena kami sama-sama produk impor dari asia. Pertama-tama si Nisa ngomong basa Inggeris gitu, tapi aku tidak mengerti. Akhirnya dia sadar bahwa aku juga sama sepertinya. Kami jadi cepat akrab, aku sayang sekali pada Nisa. Tapi suatu kali dengan kejamnya dia merebus aku, entah apa salahku. akibatnya aku sekarang sudah almarhum..

– Sepertinya akulah yang paling lama bertahan. Nisa meminum aku sedikit-sedikit. Kayanya dia tidak tega melihat aku dehidrasi. Aku sempat bertanya kenapa aku diistimewakan di kamarnya. Dia pun menjawab dengan pantun yang rima-nya sungguh kacau; “Di Oslo ada Solo, di Solo belum tentu ada Oslo”

– Nisa bilang akulah barang yang paling fungsional. Karena sering dipakai, wujudku sudah agak penyok-penyok akibat terjatuh. Setiap ke wc, Nisa selalu mengikut setakan aku. Memang, wc disini tidak ada gayung ataupun jetwasher. Yang ada hanya segulungan tissue, kloset, dan sikat wc. Walaupun aku barang “wc” tapi aku punya martabat dan harga diri tinggi. Buktinya, aku disandingkan dengan kecap.

– Perkenalkan, kami teman2 Nisa di asrama. Nisa itu orangnya kecil, dan suka masak. Entah kere atau pengen hidup sehat, Nisa jarang sekali jajan diluar. Dia itu doyan masak sop, capcay, ato hal-hal yang berbau ayam. Tapi kami suka bête kalau Nisa sudah coba-coba resep baru, karena dapur jadi bau bawang. Tapi gapapa sih, kasian dia, udah mah lagi hamil, suami jauh, sekolah, kecil pula (eh main fisik aja nih). Selain itu, nisa juga suka mandi 2x sehari. Hebat deh dingin-dingin tetep mandi. Tapi belakangan kami coba perhatikan pola mandinya, dan sepertinya dia mengurangi frekuensi mandi. Anyway, Good luck aja ya buat Nisa..

– Aku adalah mesin yang paling dieksploitasi oleh Nisa. Mulai dari download, video call, ngetik, sampai streaming tivi. Hal yang melelahkan adalah saat streaming cinta fitri, aku berasa jadi bodoh karena nonton miska dan fitri berantem.

*gambar rice cooker*

– Sebelumnya minta maaf karena fotoku ga dipampang disini karena aku sedikit pemalu. Anyway, aku adalah mesin kedua yang paling sering dieksploitasi. Tetangga sebelah sampai iba melihatku bekerja. Dia sempat ingin menyelamatkan aku dengan cara melarikanku ke kamar sebelah. Tapi Nisa tahu akal bulus itu dan iapun menggagalkan semua rencana mulia itu. Sampai kini, aku masih tetap bekerja.. dan berdoa agar cepat tewas saja.

– Aku adalah punggung Chris. Orang-orang yang bertemu Chris jarang sekali melihatku, kecuali Nisa. Pertamanya sih cuma curi-curi pandang, tapi lama kelamaan kok jadi sering menatap aku ya? Aku sempat hampir memergoki Nisa akan mengupil, tapi hal itu tidak jadi dilakukan karena asisten dosennya keburu datang.

– Aku adalah salah satu koleksi gambar Nisa. Walaupun jarang dilihat dan selalu disimpan, tapi aku selalu tau apa yang Nisa lakukan dan rasakan. Mungkin dia lupa akan keberadaanku, atau mungkin dia sengaja menyimpannya di file komputer terdalam dan berusaha melupakan aku walaupun sulit baginya untuk itu. Ih kok jadi alay gini.. Aku memang berbeda dari barang lainnya, karena aku tak pernah digunakan. Hanya untuk diingat saja sepertinya..

Read More.. Read more...

Oslo I'm in queue

>> Selasa, 10 Agustus 2010

Belum banyak pengalaman yang didapat semenjak kaki ini berdiri di aspal Oslo, karena saya dan suami baru tiba disini minggu lalu. Tapi ada beberapa kejadian yang tak akan terlupakan semenjak kedatangan di negara makmur ini. Begini ceritanya, sebelum tinggal di asrama Sogn, saya harus ambil kunci asrama di Kringsjå. Kondisi kaki yang bengkak karena duduk lama di pesawat, menjelma menjadi varises karena harus berjalan cukup jauh untuk mencapai Kringsjå. Dua koper besar dengan berat lebih dari 25kg, koper kabin, dan dua tas ransel turut menguji kekuatan fisik dan kesabaran kami. Sesampainya disana, antrian panjang mahasiswa yang senasib menyambut orang melayu ini. Nomor antrian 137 sama sekali tidak menghibur karena pada saat itu, nomor yang dipanggil adalah 60. Dengan manisnya kami duduk menunggu, menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya suami beranjak ke minimarket untuk membeli sekantong beras thailand. Harap maklum, orang frustasi seringkali bertindak diluar kelaziman manusia lainnya.

Oke, kunci sudah ditangan, namun tantangan lain masih menghadang. Perjalanan dari kringsjå ke Sogn masih jauh. Sebenarnya kami bisa menggunakan bus, namun untuk mencapai bus stop sepertinya agak ribet. Mengendarai taksi adalah pilihan yang menggiurkan, tapi itu sama saja dengan menyerahkan harta kita ke rampok, dengan kata lain; ongkosnya mahal. Akhirnya kami menempuh sisa perjalanan dengan ditopang dua kaki yang mati rasa. Hamil bukan halangan untuk mendorong koper besar. Dengan penuh semangat kekhawatiran akan si bayi, sayapun mendorong koper dengan anggun seperti bekicot.

Saat suami pergi ke kota Stavanger, kampus dan asramanya, tempat yang berbeda dengan asrama dan sekolah saya, kini seluruh urusan harus saya tanggung sendiri. Mulai dari urusan lapor polisi, lapor KBRI, survey lokasi sekolah, dan yang paling berat; membaca peta dan mempelajari trayek transportasi umum. Misi pertama wanita pejuang tunggal ini adalah pergi ke kantor polisi dan cttn sipil untuk memperoleh Norwegian ID. Namun alamak tobat, antrian kntr polisi tak kalah kejamnya dengan antrian tempo hari. Nomor yang kudapat adalah 88 sedangkan org dengan nomor urut 20 baru akan dipanggil. Walaupun datang pagi-pagi, tetap saja WNA lain lebih gesit daripada saya. Duduk di dekat layar display nomor antrian tidak membuatnya lebih cpt bergerak. No 21, selang 20 menit giliran 22.. Begitu seterusnya, sampai pada akhirnya, org yang ternyata berasal dari Nigeria mendaratkan pantatnya di tempat duduk sebelah. Percakapan pun terjadi. Saya jadi minder karena bahasa inggrisnya sangat baik dan obrolannya sangat terpelajar. Sebagai ekonom, dia mengetahui segalanya kecuali krisis moneter Indonesia tahun 97 (Suharto oh Suharto, ternyata engkau tidak se-terkenal itu). Tapi dia tetap menang karena dia menyebut "bambang susilo yudosomething" sebagai presiden Indonesia. Diapun menggiring saya untuk membicarakan tentang arsitektur dan sejenisnya, studi master yang akan saya tempuh nanti. Dimenyebutkan beberapa gaya bangunankuno di Oslo. Aih, pintarnya. Namun ketika saya balik bertanya tentang ekonomi, pertanyaan yang saya ajukan hanya tentang krisis di Eropa yang sebenarnya sayapun baru tahu dari suami kemarin2. Saya hanya mengangguk, dan menggumam "yes yes" atau "oh I see" dalam menanggapi jawaban yang saya pun tak sepenuhnya mengerti. Tapi catat, dia sangat senang ketika saya terlihat mengerti dan antusias. Kena tipu dia..

*************

Pengalaman saya disini penuh dengan penantian. Penantian antrian panjang, penantian suami yang suatu saat akan kembali, penantian akan bayi yang lahir, penantian kepulangan ke Indonesia setelah selesai S2. Saya pikir penantian adalah hal yang sekedar menunggu. Tapi ternyata itu adalah perjuangan yang sangat besar. Mungkin sebesar negeri ini.

Sampai saat ini saya masih menanti sendiri, mungkin hanya satu atau dua orang yang akan menyertai. Seperti saat aku ditemani orang asing dari Nigeria.

Oslo why are you so quite..?







Read More.. Read more...

Silence Assassination

>> Jumat, 12 Maret 2010

Diam itu emas? Mm, saya sih tidak sepenuhnya setuju. Selain diam itu bisa bikin bau mulut, diam juga bukan logam mulia yang bisa dituker duit. Diam sangat erat kaitannya dengan keheningan. Dan keheningan bisa berakibat buruk. Buruk sekali, sampai bisa membunuh --secara mental dan jiwa.

Berikut ini jenis silence* yang bisa meng-assassin* seseorang (*asal muasal judul postingan). Mari kita mulai dari poin yang bontot:

Silence Assassination (SA) #6: ga di-waro. Biar saya perjelas. Secara ilmiah, ga diwaro adalah suatu kondisi dimana orang lain seolah tidak melihat kita walaupun kita udah berusaha eksis dan narsis. Coba bayangkan ketika kita bercerita panjang lebar kepada teman tentang evolusi upil, lalu teman itu dengan tidak sopannya melengos pergi seolah budek. Beberapa detik --atau menit kita akan dibelenggu oleh keheningan yang menyebalkan. Singkat kata, ga diwaro = ga dianggap.

SA #5: salah tingkah di lift. Guys and gays males banget ga sih, kalo kita berada di lift yang sama dengan seorang stranger menuju lantai 90. Mending kalo liftnya ada musik yang bisa mengkamuflase suara kentut. Atau misal kondisi lift yang berjejal dengan salah satu penumpang yang mengidap bau badan dan posisi hidung kita kurang dari 3cm dari keteknya. Setinggi jalan kenangan, kita hanya bisa diam dengan kondisi2 diatas. Sebentar lagi kita mati oleh keheningan yang menyesakkan.

SA #4: pembunuhan yang satu ini sudah populer di kalangan manusia. Yakni menunggu..
.....
.....
..... Krik
.....
Apakah kalian menunggu kelanjutan tulisan ini? (nggaa..!) aduh jangan dong..! Walau bagaimanapun, adalah kejam untuk membuat orang lain menunggu. Akibat dari menunggu antara lain: muka cemberut, gelisah, nge-twit membabi buta sehingga timeline twiter kita membunuh twiter orang lain, berkeluh kesah di status fb, dan yang paling akut adalah "pundung" alias Madness Acute Distress (MAD). Selamat ko'it wahai penunggu.

SA #3: based on true story. Ada beberapa (baca: banyak) orang yang terkaget2 mengetahui bahwa saya sudah menikah. "oh, udah nikah?!?", kata satpam sambil terbelalak memandang wajahku. Mungkin dia pikir aku ini masih abege dibawah umur (bawah umur 30 maksudnya :p). Atau ekspresi mbak2 yang sontak lompat dari kursinya ketika mengetahui fakta itu, sambil menatapku dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki. Ada juga ibu2 yang terheran2 sambil berujar histeris, "itu istrinya mas??", yang selanjutnya memastikan bahwa aku dan suami tidak MBA (Menikah Because of Asusilation). Sesaat setelah pernyataan2 itu, aku hanya bisa berkata dalam bisu --dengan mulut setengah menganga. Kalo judul buku masakan mah "sedap sekejap", kalo saya; "senyap sakedap".

SA #2: "Wah gilak, hari ini ada meeting seharian di kantor". Tapi dalam meeting itu toh kita hanya sibuk menyaksikan pertarungan antara bos2 besar, atau menulis notulensi yang naudubileh materinya disampaikan secara ngebut. Keluhan yang dirasa jam pertama adalah mulut dahaga. Ga minum; haus, kalo minum bisa ketinggalan materi (lebay). Setelah jam ke 2-3, timbul gejala pegel tangan karena menulis, dan pegel leher karena celingak celinguk liat orang ngomong bersahut2an. Kira2 mirip penonton badminton yang kepalanya ngikut pergerakan shuttlecock. Jam berikutnya adalah ngantuk. Akhirnya, setelah 12 jam berlalu, timbul serangan pantat tepos disusul dengan kram anus.

Wah ngalor ngidulnya panjang juga. Tunggu! Jangan dulu close windownya, masih ada satu lagi!

SA #1 Dia adalah gadget freak. Ketika kita sedang berdua atau berbanyakan dengan orang yang kita kasih, tiba2 bunyi "trulut!" atau "tunit!", bahkan ada yang bunyinya "kridit-kridit!". Lalu terjadi sesuatu yang menurut saya cukup mengerikan; orang tersebut mengeluarkan benda asing bertombol dan bermonitor dari kantong / tasnya, lalu dengan sigap memencet2 sesuatu daripada benda itu. Jarinya bergerak lincah, lebih lincah dari Amelia gadis cilik. Semenit kita meperhatikan wajah dia tanpa ekspresi. Sesekali dia mengerenyitkan dahi dan mengerejapkan mata. Dan parahnya, kadang senyam senyum sendiri! 2 menit, 3 menit, 4 menit.. (kembali ke SA #4). Olala, ternyata aktifitas itu bisa berlangsung kapanpun dimanapun. Sambil berdiri, menunduk, jongkok, pundak-lutut-kaki-lutut-kaki. Sungguh hebat sekali melakukan multitasking yang menjabani dunia nyata-maya sekaligus. Dulu, aku pikir orang2 tsb sedang menjalani refleksi jempol tangan. Namun aku meralatnya karena baru2 ini ada benda yang cukup di-toel2 aja layarnya. Aku makin mengerti ketika orang bilang "halo? Dimana loe?" lewat benda itu. Semua makin jelas ketika aku beli benda itu, dan terjebak dalam situasi yang sama, sekarang, saat ini. Dunia nyata tambah sepi aja..

Selamat antiklimaks! ................*hening

Read More.. Read more...

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP