Is love in the air?

>> Minggu, 10 Agustus 2014

Sejak pertama kali jatuh cinta, love was never been in the air. Itu hanya perumpamaan untuk orang yang ditipu akan cinta yang katanya indah. Cinta bukan untuk dirasa dan diraba.  Bukan juga untuk diumbar ataupun disebut-sebut seperti jampi. Cinta yang asli adalah cinta yang tak pernah kita sadari, sampai akhirnya kita tahu cinta itu ada setelah kita tersiksa karenanya.

Saat ini aku sedang terbang mengawang dari Abu dhabi menuju amsterdam, dua negara yang menjadi persinggahan antara rute indonesia menuju norway. Lebih dari 10 jam mengudara seiring dari robeknya hati karena berpisah dari keluarga di indonesia. Masih tersisa beberapa jam lagi hatiku merana karena cinta yang terpisah diatas udara. Turbulensi seolah melawan keinginan rasa ingin kembali ke tanah air. Bagai apel yang mencoba jatuh melawan gravitasi. Mungkin sekarang saya berada di atas laut hitam, yang bilamana pesawat ini hilang, laut itu akan semakin legam tercampur hati saya yg muram karena broken heart.

People, love is on the ground. This feeling is torturing.

In the air, 080814

Read More.. Read more...

Sebuah cerita singkat wanita itu

>> Sabtu, 26 April 2014

Pada senja di musim semi di kota Edinburgh, seorang wanita melihat seorang pria di depan restoran mewah dari seberang jalan. Dilihat dari penampilannya, pria itu terlihat berkelas. Sebuah coat panjang wool menyelimuti tubuhnya yang tidak begitu tinggi. Kacamatanya mempertegas posisi terpelajarnya. Topi pet motif tartan khas Skotlandia menambah kesempurnaannya penampilannya sebagai pria tampan dari ras kaukasoid.

Langit masih terang, namun berangsur redup. Cahaya matahari mulai larut menyisakan lembayung yang merona. Saat itu bangunan-bangunan bergaya gotik di jantung kota Edinburgh mulai menampakkan gemerlap cahaya lampunya. Suasana senja yang cantik dan romantis menambah rasa sentimentil wanita itu. Ia jatuh cinta pada pemandangan kota dan terlena pada perasaannya. Namun wanita itu tak punya banyak waktu untuk menikmati apa yang ia saksikan. Ia harus bergegas menuju bus yang akan membawanya pulang. Iapun berlalu, melenggang menjauh dari pria di depan restoran. Keesokan harinya, di waktudan tempat yang sama, ia melihat lagi pria di depan restoran. Kali ini ia hanya mengenakan trench coat tipis, dan tidak bertopi. Perpaduan busana yang ia kenakan masih menunjukkan bahwa ia bukan dari golongan proletar. Lalu wanitu itu bertanya-tanya dalam hatinya, sekaya apa dia sampai harus tiap malam makan di restoran mewah? Apakah dia juga sedang menunggu seseorang? Wanita itu hanya bisa bertanya pada hatinya. Telepon genggamnya berdering, iapun sibuk dengan urusannya dan berlalu tanpa memperhatikan sang pria-depan-restoran-mewah.

Hari berikutnya, sang wanita berjalan dengan santai melewati tempat yang sama sekaligus rute nya dari kantor menuju halte bus. Ia berjalan ringan, berbeda dengan hari sebelumnya. Kali ini Ia bagaikan dapat bonus tahunan dari kantornya, atau baru mendapat promosi. Mungkin. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Pria itu lagi. Wanita itu berniat menyebrang lalu berjalan disisi jalan menuju restoran tersebut. Sebelum ia melangkah di atas zebracross, si wanita melihat pria itu menyapa hangat seorang pria dan wanita tua, lalu mempersilahkan keduanya untuk masuk ke restoran. Si wanita urung untuk melanjutkan niatnya walau badanya hampir terdorong arus orang lain yang hendak menyebrang.

Di hari yang lain lagi, yaitu Sabtu, ia tidak melewati jalan yang sama. Namun pria itu tetap ada. Dan kali ini jalanan tidak sibuk. Maka seharusnya ada kemungkinan untuk wanita itu menumpahkan rasa penasarannya untuk mendekat ke depan restoran, dan mungkin bertanya, kamu sedang apa?

Hari Senin yang sibuk, wanita itu tahu kalau ia akan menemukan pria yang sama di depan restauran yang sama. Demi mengklarifikasi penglihatannya atas kemisteriusan pria tersebut, ia menyebrang dan berjalan ke arah restoran.. Punggung si pria sudah tampak. Ya, dia tidak terlalu tinggi. Rambutnya sangat klimis, kemungkinan dia sangat wangi juga. Seiring dengan jarak yang kian dekat, si wanita merasa seperti berjalan di altar gereja. Bergerak perlahan menuju calon pengantin pria yang telah menunggu dengan senyuman teduh dan hangat, siap berjanji untuk setia sehidup semati, sampai ajal menjelang, pun sampai di liang lahat. Wanita itu memperlambat langkahnya dan menikmati sisa kepenasaranannya. Sang pria berbalik, tapi bukan kearahnya. Dia menghilang sejenak tertutup kolom ionian raksasa dari bangunan mewah restoran, lalu muncul lagi dengan memegang gagang sapu. Iapun memulai rutinitas menyapu podium restoran elit tersebut. Di dalam bangunan tampak pria bulat berkumis berjalan keluar menuju ke arahnya, dan menunjuk-nujuk bagian teras restoran yang harus di bersihkan. Sang wanita, berjalan di depan pria tanpa menengok ke arahnya.Namun bola matanya bergulir dan tetap berusaha memperhatikan gerak gerik pria itu. Matanya tidak salah kalau ia tampan, walau ternyata tidak semuda yang ia kira. Ia juga tidak salah menilai kalau baju yang dikenakan adalah baju bagus dan berkelas, walau mungkin itu baju pinjaman. Tapi ia tak menduga kalau pria itu adalah semacam jelmaan Harry Potter yang good-looking dan berkacamata, dan juga punya sapu terbang.

Wanita itu tertawa kecil, berjalan dan berjingkat seperti anak-anak. Jalanan Edinburgh yang ramai di senin sore bagaikan bersorak dan tertawa bersamanya. Bis tingkat yang terkesan mengintimidasi manusia kecil dibawahnya kini bagaikan moster dungu yang tak berkutik di tengah antrian lampu merah. Ia seharusnya sudah tau sejak dulu kalau hidup ini penuh dengan humor yang harus dinikmati.

Read More.. Read more...

Rahasia

>> Minggu, 22 September 2013

Mandal, 21 september 2013


Setiap mengobrol dengan teman, selalu terucap 'waktu berlalu cepat' atau 'time flies'. Ini benar-benar terjadi ketika saya sudah tak ingat persis apa yang dilakukan kemarin-kemarin. Yang saya ingat adalah pengulangan kegiatan: bangun, lalu kekacauan aktivitas liburan yang padat. Walaupun saat ini hingga seminggu kedepan masih liburan keluarga, tapi saya tak ingat betul kapan terakhir bersantai bersama mereka.

Sewaktu saya tamat sekolah setelah berbelas tahun lamanya, yang saya ingat diluar kepala sampai sekarang adalah perkalian 2 sampai 9. 

Ketika saya Solat 5 waktu, 17 rakaat sehari dikali seminggu, lalu dikali bertahun-tahun, eh ternyata hidup saya belum mencerminkan apa yang saya panjatkan di dalam solat.

Dengan embel-embel atas dasar cinta, banyak sekali pertimbangan dan perhitungan rumit dalam membesarkan Zahra. Dan dia membalasnya dengan mengajarkan saya satu hal. Kesederhanaan.

Ketika waktu merenggut siang, dan suami sudah tertidur, saya seringkali teringat akan sesuatu yang lupa disampaikan padanya di siang hari. Tapi sudahlah.

Ketika tiba-tiba saja saya sudah berada di negeri ini.

Dan ternyata umur saya mendadak sebegini...


Quantities took over qualities.

Read More.. Read more...

Secangkir Kopi di Rabu Pagi - PROLOG

>> Rabu, 28 Agustus 2013


Dulu, saya tidak suka kopi. Kopi itu pahit. Walaupun berubah manis karena gula, warnanya tetap hitam kelam yang tetap terlihat pahit dan tidak menarik. Kenapa orang bisa suka kopi? Yang lebih mengherankan, siapa yang menemukan dan mempopulerkan secangkir minuman rasa batrawali? Setelah itu, saya diperkenalkan kepada jenis macam minuman “berkopi” lain. Capuccino, latte, frapuccino dan minuman menyenangkan lain. Untuk saya, ini lebih baik, karena rasa dan warna kopi sudah samar. Di Starbucks, saya sering dipusingkan dengan berjuta menu kopi yang pada intinya adalah campuran kopi, susu, dan pemanis. Caramel Ribbon Crunch Crème Frappucino, Vanilla Bean Crème Frappucino, sampai minuman jus buah yang dicampur kopi. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa tanya, “Mbak, yang paling banyak di pesan orang yang mana?”. Berbagai pilihan rasa membuat saya lemah pendirian.

Belakangan, saya tinggal di negeri dimana kopi hitam tanpa gula adalah minuman lumrah. Mereka biasa minum “jamu” tersebut dikala sibuk atau selagi bersantai. Mereka bisa meminumnya sambil, mengobrol, bersenda gurau, menonton tv dan lain-lain. Sejak saat itu saya mulai melihat kopi dari sisi yang berbeda, dimana meminum kopi (hitam) adalah ajang latihan untuk menghadapi kehidupan, terutama yang pahit. Coba bayangkan, jika kita meminum 10 cangkir espresso, kita bisa lebih memaknai terjangan kesulitan dalam hidup. Cairan hitam dalam gelas, kita telan cepat-cepat. Masuk ke perut, dan kadang langsung ke lobang wc. Seketika kita menjadi pribadi tanggung dan tidak cengeng. Tidak heran, minuman  supir truk pantura, kernet metromini, kuli bangunan, adalah kopi hitam yang diseduh dengan air dari termos alumunium. Mereka saja tidak sadar bahwa dirinya adalah tangguh dan kuat. Saya belum pernah dengar mereka meminum susu hangat dicampur gula dan essens vanilla.

Pagi ini, adalah hari yang kesekian saya meminum kopi hitam. Walau masih sering dicampur susu, tapi saya tidak pernah mencampurnya dengan gula. Saya juga sudah bisa menghirup kopi hitam itu pelan-pelan, dan sayapun mulai menikmatinya. Saya jadi ingat perkataan teman dari Prancis kalau kopi adalah satu pilihan rasa. Kopi yang dicampur berjuta rasa itu adalah omong kosong. Dulu saya tak paham. Tapi rasanya sekarang saya mulai ‘ngeh’.
 

 

Read More.. Read more...

Lemari

>> Kamis, 22 Agustus 2013

Banyak yang tidak sadar bahwa lemari adalah refleksi  dari kehidupan pribadi kita. Lemari perlu ditutup dan kadang dikunci.  Begitu pula dengan diri kita yang perlu dijaga privasinya. Lemari dibuat dari berbagai jenis warna dan material yang berbeda. Ada yang sangat gelap, ada juga yang cerah. Ada yang terbuat dari kayu jati yang keras, dan ada yang hanya ditutup sehelai kain menerawang. Belakangan saya melihat ada lemari yang  terbuat dari metal tanpa penutup. Lemari yang hanya tersusun dari rangka metal. Mirip jerangkong yang seluruh jiwanya terekspos. Itu pasti bukan lemari saya.

Beberapa minggu lalu saya menempati rumah baru. Di dalamnya belum ada lemari. Kala itu pakaian bertumpuk tak beraturan di atas kopor yang selalu terbuka. Properti lain yang biasa kusimpan dalam lemari, berserakan minta dicuri. Beragam barang  tidak terorganisir dengan rapi, semua tercerai berai seperti uang gopek saweran. Saya tidak bisa lagi mengelompokkan jenis baju, tak bisa lagi memilah dokumen yang masuk di lemari, dan tidak bisa lagi meyembunyikan pakaian kotor dibalik pintu lemari.  Disaat itu saya kehilangan sebuah perangkat untuk mengatur diri. Oleh karenanya, fokus pada saat itu adalah membeli lemari. Saya menangguh untuk membeli ranjang dan tidur di atas lantai beralas matras hanya untuk memprioritaskan membeli sebuah lemari. Sungguh! Namun sayangnya, tidak gampang mendapatkan lemari yang pas. Untuk yang berkualitas bagus, harganya terlalu mahal. Untuk kualitas “kw3”, “kw4”, sampai kalong wewe, hati ini tidak sudi menerima. Untuk yang kualitas menengah…… rasanya saya ingin membeli kualitas bagus dengan harga seminim mungkin. Demikian prinsip ekonomi (orang pas-pasan).  Akibatnya pertimbangan itu lemaripun tak kunjung hadir di rumah. Beribu toko sudah disambangi. Belum ada yang pas dihati. Kalaupun ada, harganya tidak pas di kantong. Sayapun seringkali pulang dengan tangan kosong.

Bukan berarti saya kaum ekstrimis kere. Tapi ada hal yang membuat saya bingung memilih lemari. Rumah yang sekarang ditempati adalah rumah sementara. Saya ingin mempunyai lemari yang berkapasitas besar (karena rumah ini tidak ada gudang), namun mudah untuk dibongkar-pasang. Sayapun ingin yang berkualitas bagus sebagai investasi jangka panjang, Tapi saya juga ingin yang harganya tergangkau.

Seminggu tanpa lemari jiwa ini galau. Apalagi ketika Zahra berpartisipasi untuk mengobrak-abrik isi kopor. Ikat pinggang, celana dalam, kacamata, dan beberapa mainan Zahra bergabung dalam satu paguyuban. Cucian kering dan wangi yang seharusnya langsung masuk lemari, terpaksa ditata diatas meja belajar. Sudah tak kuat lagi, akhirnya saya mantap memiilih satu jenis lemari. Disertai Bismillah, saya pergi ke toko, dan menanyakan barang itu. Ternyata, barangnya tidak ada. Selanjutnya saya menyambangi toko lain. Ada! Namun harus memesan selama satu minggu. Orang sabar disayang Tuhan, saya pun memesan dan menunggu seminggu lagi.

Lemariku adalah separuh jiwa yang belum datang. Dibaliknya biasa saya simpan segalanya. Baju hitam, baju putih. Kain kasar, kain lembut. Dokumen penting, properti pribadi, perhiasan, dan sejuta dolar (yang ini bohong).. Kalau lemari mulai berantakan, saya harus segera bebenah, jangan sampai area pakaian dalam bercampur dengan sejuta dolarku itu. Manifestasi sebuah lemari merupakan sejuta sisi dalam diri saya. Jika ada yang menanyakan tentang saya, tanya saja nanti lemariku.

Seminggu tiba saatnya. Saya bersiap menjemput lemari. Namun sang petugas toko berujar lewat telepon bahwa lemari belum tiba, dan harus menunggu tiga hari berikutnya. Ternyata, masih harus menunggu beberapa hari sampai hidup ini sedikit lebih teratur. Dan sejujurnya, sayapun belum yakin berapa jumlah lemari yang benar-benar membuat diri ini "teratur".

Kampret!

Read More.. Read more...

AHO - Akhir Tak Berakhir

>> Selasa, 18 Juni 2013

Si Proyek cinta selesai. Tapi apa cinta kepadanya bisa sirna?

Waktu kaki ini melangkah menuju auditorium, perasaanku sangat biasa. Mungkin itu dikarenakan kesederhanaan yang disuguhkan kampusku. Kemegahan yang biasanya terjadi di resepsi kelulusan tidak tampak. Ruang akustik kayu dengan warna terang dan cahaya matahari musim semi yang hangat menyatukan keluarga kecil di kampus. Para wisudawan berjalan diiriingi riuh tepuk tangan keluarga. Bagaikan musisi selepas konser. Lalu saya melihat ke jajaran depan. Tampak rektor beserta para petinggi kampus. Tidak heran, toh mereka yang selama ini memimpin dan memerintah. Lalu aku mencari keluargaku. Lalu supervisorku. Mereka tidak duduk di depan.

Saya belajar sesuatu dari hal ini. Orang yang duduk di belakang adalah seorang pendengar yang baik. Dia lebih tenang dan tidak ambisius. Seorang bijak yang selalu mengalah walau disertai sindiran. Yang paling pasti, dia adalah pendukung setia dan tulus akan kemanapun arah tujuanku. Orang yang duduk di belakang selalu tersenyum dikala susah. Dan aku termasuk orang yang duduk dibelakang, apalagi kalau kursi jajaran depan penuh.

Saat ku duduk di -jajaran belakang- area wisudawan, perasaan sentimentil muncul. Aku berpikir bahwa inilah saatnya aku meninggalkan kampus beserta proyek cinta. Lega karena akhirnya beban studi selesai, namun disisi lain sedih karena aku akan meninggalkan sesuatu yang biasa ku lakukan. Seandainya kampus ini adalah manusia, ia adalah seseorang yang menyaksikan dedikasiku pada masa depan sekaligus penghiatan pada diri sendiri yang sebenarnya menolak melakukan itu. Ini salah itu salah, cinta ini cinta itu. Walau bagaimanpun sebagian kejadian di kampus tetap kusimpan dalam harddisk komputer berupa file tugas, dan ada juga yang kubiarkan melekat dalam hati dan menari-nari di pikiranku. 

Selamat tinggal momenku di kampus. Saya hanya ingin membawa kenangan yang indah. Khusus untuk kasus ini, saya rela bila cinta ini luntur. Lagian tak ada gunanya mencintai yang tak mencintaiku, ya kampus? Walau sangat banyak memberi, kamu mungkin bukan yang terpenting bagiku. Dirimu selalu merangkul dari dinginnya salju itu, tapi kamu tetap tak mampu menghangatkan hidupku. Walau kau yang kutuju pada saat itu, bukan berarti dirimu adalah muara harapanku. 
 

Namun tiba-tiba ada yang berbisik berbisik samar padaku; "I'll miss you, I love you".

Cinta sejati tidak mungkin padam, tapi bisa sedikit direkayasa.
Galau..    

Read More.. Read more...

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP