Rahasia

>> Minggu, 22 September 2013

Mandal, 21 september 2013


Setiap mengobrol dengan teman, selalu terucap 'waktu berlalu cepat' atau 'time flies'. Ini benar-benar terjadi ketika saya sudah tak ingat persis apa yang dilakukan kemarin-kemarin. Yang saya ingat adalah pengulangan kegiatan: bangun, lalu kekacauan aktivitas liburan yang padat. Walaupun saat ini hingga seminggu kedepan masih liburan keluarga, tapi saya tak ingat betul kapan terakhir bersantai bersama mereka.

Sewaktu saya tamat sekolah setelah berbelas tahun lamanya, yang saya ingat diluar kepala sampai sekarang adalah perkalian 2 sampai 9. 

Ketika saya Solat 5 waktu, 17 rakaat sehari dikali seminggu, lalu dikali bertahun-tahun, eh ternyata hidup saya belum mencerminkan apa yang saya panjatkan di dalam solat.

Dengan embel-embel atas dasar cinta, banyak sekali pertimbangan dan perhitungan rumit dalam membesarkan Zahra. Dan dia membalasnya dengan mengajarkan saya satu hal. Kesederhanaan.

Ketika waktu merenggut siang, dan suami sudah tertidur, saya seringkali teringat akan sesuatu yang lupa disampaikan padanya di siang hari. Tapi sudahlah.

Ketika tiba-tiba saja saya sudah berada di negeri ini.

Dan ternyata umur saya mendadak sebegini...


Quantities took over qualities.

Read More.. Read more...

Secangkir Kopi di Rabu Pagi - PROLOG

>> Rabu, 28 Agustus 2013


Dulu, saya tidak suka kopi. Kopi itu pahit. Walaupun berubah manis karena gula, warnanya tetap hitam kelam yang tetap terlihat pahit dan tidak menarik. Kenapa orang bisa suka kopi? Yang lebih mengherankan, siapa yang menemukan dan mempopulerkan secangkir minuman rasa batrawali? Setelah itu, saya diperkenalkan kepada jenis macam minuman “berkopi” lain. Capuccino, latte, frapuccino dan minuman menyenangkan lain. Untuk saya, ini lebih baik, karena rasa dan warna kopi sudah samar. Di Starbucks, saya sering dipusingkan dengan berjuta menu kopi yang pada intinya adalah campuran kopi, susu, dan pemanis. Caramel Ribbon Crunch Crème Frappucino, Vanilla Bean Crème Frappucino, sampai minuman jus buah yang dicampur kopi. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa tanya, “Mbak, yang paling banyak di pesan orang yang mana?”. Berbagai pilihan rasa membuat saya lemah pendirian.

Belakangan, saya tinggal di negeri dimana kopi hitam tanpa gula adalah minuman lumrah. Mereka biasa minum “jamu” tersebut dikala sibuk atau selagi bersantai. Mereka bisa meminumnya sambil, mengobrol, bersenda gurau, menonton tv dan lain-lain. Sejak saat itu saya mulai melihat kopi dari sisi yang berbeda, dimana meminum kopi (hitam) adalah ajang latihan untuk menghadapi kehidupan, terutama yang pahit. Coba bayangkan, jika kita meminum 10 cangkir espresso, kita bisa lebih memaknai terjangan kesulitan dalam hidup. Cairan hitam dalam gelas, kita telan cepat-cepat. Masuk ke perut, dan kadang langsung ke lobang wc. Seketika kita menjadi pribadi tanggung dan tidak cengeng. Tidak heran, minuman  supir truk pantura, kernet metromini, kuli bangunan, adalah kopi hitam yang diseduh dengan air dari termos alumunium. Mereka saja tidak sadar bahwa dirinya adalah tangguh dan kuat. Saya belum pernah dengar mereka meminum susu hangat dicampur gula dan essens vanilla.

Pagi ini, adalah hari yang kesekian saya meminum kopi hitam. Walau masih sering dicampur susu, tapi saya tidak pernah mencampurnya dengan gula. Saya juga sudah bisa menghirup kopi hitam itu pelan-pelan, dan sayapun mulai menikmatinya. Saya jadi ingat perkataan teman dari Prancis kalau kopi adalah satu pilihan rasa. Kopi yang dicampur berjuta rasa itu adalah omong kosong. Dulu saya tak paham. Tapi rasanya sekarang saya mulai ‘ngeh’.
 

 

Read More.. Read more...

Lemari

>> Kamis, 22 Agustus 2013

Banyak yang tidak sadar bahwa lemari adalah refleksi  dari kehidupan pribadi kita. Lemari perlu ditutup dan kadang dikunci.  Begitu pula dengan diri kita yang perlu dijaga privasinya. Lemari dibuat dari berbagai jenis warna dan material yang berbeda. Ada yang sangat gelap, ada juga yang cerah. Ada yang terbuat dari kayu jati yang keras, dan ada yang hanya ditutup sehelai kain menerawang. Belakangan saya melihat ada lemari yang  terbuat dari metal tanpa penutup. Lemari yang hanya tersusun dari rangka metal. Mirip jerangkong yang seluruh jiwanya terekspos. Itu pasti bukan lemari saya.

Beberapa minggu lalu saya menempati rumah baru. Di dalamnya belum ada lemari. Kala itu pakaian bertumpuk tak beraturan di atas kopor yang selalu terbuka. Properti lain yang biasa kusimpan dalam lemari, berserakan minta dicuri. Beragam barang  tidak terorganisir dengan rapi, semua tercerai berai seperti uang gopek saweran. Saya tidak bisa lagi mengelompokkan jenis baju, tak bisa lagi memilah dokumen yang masuk di lemari, dan tidak bisa lagi meyembunyikan pakaian kotor dibalik pintu lemari.  Disaat itu saya kehilangan sebuah perangkat untuk mengatur diri. Oleh karenanya, fokus pada saat itu adalah membeli lemari. Saya menangguh untuk membeli ranjang dan tidur di atas lantai beralas matras hanya untuk memprioritaskan membeli sebuah lemari. Sungguh! Namun sayangnya, tidak gampang mendapatkan lemari yang pas. Untuk yang berkualitas bagus, harganya terlalu mahal. Untuk kualitas “kw3”, “kw4”, sampai kalong wewe, hati ini tidak sudi menerima. Untuk yang kualitas menengah…… rasanya saya ingin membeli kualitas bagus dengan harga seminim mungkin. Demikian prinsip ekonomi (orang pas-pasan).  Akibatnya pertimbangan itu lemaripun tak kunjung hadir di rumah. Beribu toko sudah disambangi. Belum ada yang pas dihati. Kalaupun ada, harganya tidak pas di kantong. Sayapun seringkali pulang dengan tangan kosong.

Bukan berarti saya kaum ekstrimis kere. Tapi ada hal yang membuat saya bingung memilih lemari. Rumah yang sekarang ditempati adalah rumah sementara. Saya ingin mempunyai lemari yang berkapasitas besar (karena rumah ini tidak ada gudang), namun mudah untuk dibongkar-pasang. Sayapun ingin yang berkualitas bagus sebagai investasi jangka panjang, Tapi saya juga ingin yang harganya tergangkau.

Seminggu tanpa lemari jiwa ini galau. Apalagi ketika Zahra berpartisipasi untuk mengobrak-abrik isi kopor. Ikat pinggang, celana dalam, kacamata, dan beberapa mainan Zahra bergabung dalam satu paguyuban. Cucian kering dan wangi yang seharusnya langsung masuk lemari, terpaksa ditata diatas meja belajar. Sudah tak kuat lagi, akhirnya saya mantap memiilih satu jenis lemari. Disertai Bismillah, saya pergi ke toko, dan menanyakan barang itu. Ternyata, barangnya tidak ada. Selanjutnya saya menyambangi toko lain. Ada! Namun harus memesan selama satu minggu. Orang sabar disayang Tuhan, saya pun memesan dan menunggu seminggu lagi.

Lemariku adalah separuh jiwa yang belum datang. Dibaliknya biasa saya simpan segalanya. Baju hitam, baju putih. Kain kasar, kain lembut. Dokumen penting, properti pribadi, perhiasan, dan sejuta dolar (yang ini bohong).. Kalau lemari mulai berantakan, saya harus segera bebenah, jangan sampai area pakaian dalam bercampur dengan sejuta dolarku itu. Manifestasi sebuah lemari merupakan sejuta sisi dalam diri saya. Jika ada yang menanyakan tentang saya, tanya saja nanti lemariku.

Seminggu tiba saatnya. Saya bersiap menjemput lemari. Namun sang petugas toko berujar lewat telepon bahwa lemari belum tiba, dan harus menunggu tiga hari berikutnya. Ternyata, masih harus menunggu beberapa hari sampai hidup ini sedikit lebih teratur. Dan sejujurnya, sayapun belum yakin berapa jumlah lemari yang benar-benar membuat diri ini "teratur".

Kampret!

Read More.. Read more...

AHO - Akhir Tak Berakhir

>> Selasa, 18 Juni 2013

Si Proyek cinta selesai. Tapi apa cinta kepadanya bisa sirna?

Waktu kaki ini melangkah menuju auditorium, perasaanku sangat biasa. Mungkin itu dikarenakan kesederhanaan yang disuguhkan kampusku. Kemegahan yang biasanya terjadi di resepsi kelulusan tidak tampak. Ruang akustik kayu dengan warna terang dan cahaya matahari musim semi yang hangat menyatukan keluarga kecil di kampus. Para wisudawan berjalan diiriingi riuh tepuk tangan keluarga. Bagaikan musisi selepas konser. Lalu saya melihat ke jajaran depan. Tampak rektor beserta para petinggi kampus. Tidak heran, toh mereka yang selama ini memimpin dan memerintah. Lalu aku mencari keluargaku. Lalu supervisorku. Mereka tidak duduk di depan.

Saya belajar sesuatu dari hal ini. Orang yang duduk di belakang adalah seorang pendengar yang baik. Dia lebih tenang dan tidak ambisius. Seorang bijak yang selalu mengalah walau disertai sindiran. Yang paling pasti, dia adalah pendukung setia dan tulus akan kemanapun arah tujuanku. Orang yang duduk di belakang selalu tersenyum dikala susah. Dan aku termasuk orang yang duduk dibelakang, apalagi kalau kursi jajaran depan penuh.

Saat ku duduk di -jajaran belakang- area wisudawan, perasaan sentimentil muncul. Aku berpikir bahwa inilah saatnya aku meninggalkan kampus beserta proyek cinta. Lega karena akhirnya beban studi selesai, namun disisi lain sedih karena aku akan meninggalkan sesuatu yang biasa ku lakukan. Seandainya kampus ini adalah manusia, ia adalah seseorang yang menyaksikan dedikasiku pada masa depan sekaligus penghiatan pada diri sendiri yang sebenarnya menolak melakukan itu. Ini salah itu salah, cinta ini cinta itu. Walau bagaimanpun sebagian kejadian di kampus tetap kusimpan dalam harddisk komputer berupa file tugas, dan ada juga yang kubiarkan melekat dalam hati dan menari-nari di pikiranku. 

Selamat tinggal momenku di kampus. Saya hanya ingin membawa kenangan yang indah. Khusus untuk kasus ini, saya rela bila cinta ini luntur. Lagian tak ada gunanya mencintai yang tak mencintaiku, ya kampus? Walau sangat banyak memberi, kamu mungkin bukan yang terpenting bagiku. Dirimu selalu merangkul dari dinginnya salju itu, tapi kamu tetap tak mampu menghangatkan hidupku. Walau kau yang kutuju pada saat itu, bukan berarti dirimu adalah muara harapanku. 
 

Namun tiba-tiba ada yang berbisik berbisik samar padaku; "I'll miss you, I love you".

Cinta sejati tidak mungkin padam, tapi bisa sedikit direkayasa.
Galau..    

Read More.. Read more...

Quote of the day

>> Selasa, 14 Mei 2013

Hello,

I'm sorry, but I'm sure you'll be ok.
Needn't say say until I know what will happen.

Have you seen it?
Yes, they're nice
Am I misunderstood or you drunk saying good things over someone's work?
both.

There are nice things from what you already wrote.
Which one? I revised so many times
Mmmmmmmm...


Hey, was there any unexpected questions?
You supposed to be there so you don't have to ask.


HEY DON'T SMILE LIKE THAT!

Read More.. Read more...

Lenyap

>> Senin, 29 April 2013

Beberapa hari yang lalu, Sang ustadz gaul alias Jeffry Al-Buchori meninggal dunia karena kecelakaan motor. Walaupun saya bukan fans-nya, tapi kepergian beliau cukup membuat perasaanku ini sedih atas kehilangannya. Innalillahi wainnailaihi Rajiun. 

Ustadz, Insyaallah sekarang Allah tidak hanya dihati ustadz, tapi sudah berada di dekatmu.
Uje, apa rasanya di Shalat-kan oleh ribuan Jemaah shalat Jumat?
Uje, apa rasanya diantarkan oleh ribuan orang ke liang lahat?
Uje, apa ustadz juga merasa sedih meninggalkan keluarga?
Uje,
Uje,
Uje, bagaimana rasanya hilang dari bumi?
 
Apa rasanya lenyap?
 
Sejauh yang saya tahu, manusia mati, lalu hidup lagi di alam yang berbeda. Berarti dia tidak. Manusia akan kekal hidup. Lalu bagaimana rasanya lenyap? Kalau uang kita hilang, itu hanya soal berpindah tangan. Kalau Es batu hilang, bukankah itu sekedar perubahan wujud? Kalau seseorang meninggal, ia hanya lenyap di alam yang berbeda.
 
Lalu bagaimana itu lenyap? Rasakanlah..
 
Saya jadi ingat cerita dari teman dari Cina. Mereka tidak percaya adanya surge dan neraka. Yang ada hanyalah perubahan entitas sesuai dengan kebaikan di hidup sebelumnya. Dia mencontohkan, kalau sesorang  jahat sewaktu hidup, saat meninggal nanti mungkin ia bereinkarnasi menjadi babi. Saya berpikir, mungkin babi sekarang adalah para narapidana kelas berat. Makanya kita diharamkan makan babi. Dan saya berandai-andai kalau para koruptor yang sudah tiada itu adalah seekor.. curut? Yang selalu berkembang biak 12x lipat walau sudah kita basmi. Para Bandar narkoba itu mungkin kecoa yang bisa bertahan hidup selama beberapa hari walau tanpa kepala. Lalu kalau pemerkosa itu mungkin cicak. Walaupun buntutnya putus, tapi tumbuh lagi dengan sempurna semacam ereksi. Kalau maling soal Ujian Nasional kayanya jadi ular yang licik. Tunggu, lalu apa jadinya orang baik di kehidupan selanjutnya? Dia mencontohkan sambil tertawa, kalau orang tersebut mungkin menjadi manusia lagi seperti kita. Aku keberatan, karena aku tidak ingat apa-apa tentang aku sebelum sekarang. Dia bilang: “Ingatan kamu akan lenyap saat bereinkarnasi”
 
Jadi lenyap itu tidak bisa dirasakan? Tidak juga bisa dipikirkan?
 
Kepala ini mendadak lebih produktif memecahkan misteri ini. Hati ini tiada tenang. Saya (selalu) menjadi pemikir gelisah. 
 
Akan tetapi, kejadian tempo hari membuat hati ini sakit dan harga diri terjun bebas. Menahan emosi dengan cara menangis sendiri di sudut ruang, bersimpuh pada meja belajar, dibawah lampu spotlight temaram, tetap tidak akan bisa melenyapkan perasaan itu. Sakit rasanya. Walau aku lenyap dari dunia, rasa itu masih akan selalu ada, mungkin hanya terbang entah kemana mencari hati yang lain untuk dihinggapi.      

Read More.. Read more...

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP