Rahasia
>> Minggu, 22 September 2013
Mandal, 21 september 2013
Mandal, 21 september 2013
Banyak yang tidak sadar bahwa
lemari adalah refleksi dari kehidupan
pribadi kita. Lemari perlu ditutup dan kadang dikunci. Begitu pula dengan diri kita yang perlu
dijaga privasinya. Lemari dibuat dari berbagai jenis warna dan material yang
berbeda. Ada yang sangat gelap, ada juga yang cerah. Ada yang terbuat dari kayu
jati yang keras, dan ada yang hanya ditutup sehelai kain menerawang. Belakangan
saya melihat ada lemari yang terbuat
dari metal tanpa penutup. Lemari yang hanya tersusun dari rangka metal. Mirip jerangkong
yang seluruh jiwanya terekspos. Itu pasti bukan lemari saya.
Beberapa minggu lalu saya
menempati rumah baru. Di dalamnya belum ada lemari. Kala itu pakaian bertumpuk tak
beraturan di atas kopor yang selalu terbuka. Properti lain yang biasa kusimpan
dalam lemari, berserakan minta dicuri. Beragam barang tidak terorganisir dengan rapi, semua tercerai
berai seperti uang gopek saweran. Saya tidak bisa lagi mengelompokkan jenis
baju, tak bisa lagi memilah dokumen yang masuk di lemari, dan tidak bisa lagi meyembunyikan
pakaian kotor dibalik pintu lemari.
Disaat itu saya kehilangan sebuah perangkat untuk mengatur diri. Oleh
karenanya, fokus pada saat itu adalah membeli lemari. Saya menangguh untuk membeli
ranjang dan tidur di atas lantai beralas matras hanya untuk memprioritaskan membeli
sebuah lemari. Sungguh! Namun sayangnya, tidak gampang mendapatkan lemari yang
pas. Untuk yang berkualitas bagus, harganya terlalu mahal. Untuk kualitas “kw3”,
“kw4”, sampai kalong wewe, hati ini tidak sudi menerima. Untuk yang kualitas menengah……
rasanya saya ingin membeli kualitas bagus dengan harga seminim mungkin.
Demikian prinsip ekonomi (orang pas-pasan).
Akibatnya pertimbangan itu lemaripun tak kunjung hadir di rumah. Beribu
toko sudah disambangi. Belum ada yang pas dihati. Kalaupun ada, harganya tidak
pas di kantong. Sayapun seringkali pulang dengan tangan kosong.
Bukan berarti saya kaum
ekstrimis kere. Tapi ada hal yang membuat saya bingung memilih lemari. Rumah
yang sekarang ditempati adalah rumah sementara. Saya ingin mempunyai lemari
yang berkapasitas besar (karena rumah ini tidak ada gudang), namun mudah untuk
dibongkar-pasang. Sayapun ingin yang berkualitas bagus sebagai investasi jangka
panjang, Tapi saya juga ingin yang harganya tergangkau.
Seminggu tanpa lemari jiwa
ini galau. Apalagi ketika Zahra berpartisipasi untuk mengobrak-abrik isi kopor.
Ikat pinggang, celana dalam, kacamata, dan beberapa mainan Zahra bergabung dalam
satu paguyuban. Cucian kering dan wangi yang seharusnya langsung masuk lemari,
terpaksa ditata diatas meja belajar. Sudah tak kuat lagi, akhirnya saya mantap
memiilih satu jenis lemari. Disertai Bismillah, saya pergi ke toko, dan
menanyakan barang itu. Ternyata, barangnya tidak ada. Selanjutnya saya
menyambangi toko lain. Ada! Namun harus memesan selama satu minggu. Orang sabar
disayang Tuhan, saya pun memesan dan menunggu seminggu lagi.
Lemariku adalah separuh jiwa yang
belum datang. Dibaliknya biasa saya simpan segalanya. Baju hitam, baju putih.
Kain kasar, kain lembut. Dokumen penting, properti pribadi, perhiasan, dan sejuta
dolar (yang ini bohong).. Kalau lemari mulai berantakan, saya harus segera
bebenah, jangan sampai area pakaian dalam bercampur dengan sejuta dolarku itu. Manifestasi
sebuah lemari merupakan sejuta sisi dalam diri saya. Jika ada yang menanyakan
tentang saya, tanya saja nanti lemariku.
Seminggu tiba saatnya. Saya
bersiap menjemput lemari. Namun sang petugas toko berujar lewat telepon bahwa
lemari belum tiba, dan harus menunggu tiga hari berikutnya. Ternyata, masih harus
menunggu beberapa hari sampai hidup ini sedikit lebih teratur. Dan sejujurnya, sayapun belum yakin berapa jumlah lemari yang benar-benar membuat diri ini "teratur".
Kampret!
Si Proyek cinta selesai. Tapi apa cinta kepadanya bisa sirna?
Waktu kaki ini melangkah menuju auditorium, perasaanku sangat biasa.
Mungkin itu dikarenakan kesederhanaan yang disuguhkan kampusku.
Kemegahan yang biasanya terjadi di resepsi kelulusan tidak tampak. Ruang
akustik kayu dengan warna terang dan cahaya matahari musim semi yang
hangat menyatukan keluarga kecil di kampus. Para wisudawan berjalan
diiriingi riuh tepuk tangan keluarga. Bagaikan musisi selepas konser.
Lalu saya melihat ke jajaran depan. Tampak rektor beserta para petinggi
kampus. Tidak heran, toh mereka yang selama ini memimpin dan memerintah.
Lalu aku mencari keluargaku. Lalu supervisorku. Mereka tidak duduk di
depan.
Saya belajar sesuatu dari hal ini. Orang yang
duduk di belakang adalah seorang pendengar yang baik. Dia lebih tenang
dan tidak ambisius. Seorang bijak yang selalu mengalah walau disertai
sindiran. Yang paling pasti, dia adalah pendukung setia dan tulus akan
kemanapun arah tujuanku. Orang yang duduk di belakang selalu tersenyum
dikala susah. Dan aku termasuk orang yang duduk dibelakang, apalagi kalau
kursi jajaran depan penuh.
Saat ku duduk di -jajaran belakang- area wisudawan, perasaan sentimentil muncul. Aku berpikir bahwa inilah saatnya
aku meninggalkan kampus beserta proyek cinta. Lega karena akhirnya
beban studi selesai, namun disisi lain sedih karena aku akan
meninggalkan sesuatu yang biasa ku lakukan. Seandainya kampus ini adalah
manusia, ia adalah seseorang yang menyaksikan dedikasiku pada masa
depan sekaligus penghiatan pada diri sendiri yang sebenarnya menolak
melakukan itu. Ini salah itu salah, cinta ini cinta itu. Walau
bagaimanpun sebagian kejadian di kampus tetap kusimpan dalam harddisk komputer berupa file
tugas, dan ada juga yang kubiarkan melekat dalam hati dan menari-nari di
pikiranku.
Selamat tinggal momenku di kampus. Saya
hanya ingin membawa kenangan yang indah. Khusus untuk kasus ini, saya rela bila
cinta ini luntur. Lagian tak ada gunanya mencintai yang tak mencintaiku,
ya kampus? Walau sangat banyak memberi, kamu mungkin bukan yang
terpenting bagiku. Dirimu selalu merangkul dari dinginnya salju itu,
tapi kamu tetap tak mampu menghangatkan hidupku. Walau kau yang kutuju
pada saat itu, bukan berarti dirimu adalah muara harapanku.
Namun tiba-tiba ada yang berbisik berbisik samar padaku; "I'll miss you, I love you".
Cinta sejati tidak mungkin padam, tapi bisa sedikit direkayasa.
Galau..
Hello,
I'm sorry, but I'm sure you'll be ok.
Needn't say say until I know what will happen.
Have you seen it?
Yes, they're nice
Am I misunderstood or you drunk saying good things over someone's work?
both.
There are nice things from what you already wrote.
Which one? I revised so many times
Mmmmmmmm...
Hey, was there any unexpected questions?
You supposed to be there so you don't have to ask.
HEY DON'T SMILE LIKE THAT!
Beberapa hari
yang lalu, Sang ustadz gaul alias Jeffry Al-Buchori meninggal dunia karena
kecelakaan motor. Walaupun saya bukan fans-nya, tapi kepergian beliau cukup
membuat perasaanku ini sedih atas kehilangannya. Innalillahi wainnailaihi
Rajiun.
© Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP